Gemeritik hujan di sore hari yang begitu riuh ramainya suasana, karena jatuhnya tiap tetes air hujan yang dingin ke permukaan bumi yang telah di sinari oleh teriknya matahari di siang bolong tadi. Begitu sangat dingin.
“hujannya deras sayang, kita diem aja dulu disini ya?” ujar Mama yang melihat ke langit.
“iya mah, tunggu aja dulu.” balasku
Dari kejauhan guruku dan seorang wanita muda berjalan ke arah ku dan Mama. Wanita itu seperti anak Ibu Dewi.
“Randa, belum pulang? Nunggu ujan ya?”guruku bertanya. Aku hanya tersipu malu.
“ya bu, hujannya besar sekali.” Mama langsung menjawab pertanyaan Ibu Guru yang seharusnya aku jawab.
“ibu, lucu ya Randa, tinggi besar lucu lagi, itemnya lucu ya ,ngga kayak anak kelas 2 SD gede banget? iih.. gemes pingin cubit boleh?” kata wanita itu menunjukan rasa geregetnya padaku. Aku hanya bersembunyi di belakangan Mama.
“ahh.. Randa memang selalu malu begini, masih kecil. Randa sayang tuh anaknya Ibu Dewi namanya Kak Lia.” kata Mamaku yang membuat aku semakin malu.
“Randa-Randa, ya sudah. Hujannya sudah mulai berhenti, kita pulang yuk!” ajak Bu Dewi.
“Besok sekolah seperti biasa ya, jam 3 sore, sekolah yang dulu belum selesai direhab, sepertinya sekitar 2 minggu lagi selesai.” lanjut Bu Dewi.
Memang 1 minggu terakhir ini sekolahku direhab. Tak salah aku sering sekali kecapean dan jatuh sakit.
Sore itu sudah pukul 5.30, aku bergegas pulang bersama Mama.
Sesampainya di rumah aku melihat perempuan memakai pakaian tidur membukakan pagar rumahku, itu ternyata Kak Chika. Kak Chika menyodorkanku handuk merah bergambarkan kartun kesukaannya Micky Mouse.
“Ayo masuk-masuk, di luar dingin sekali. Ayo masuk Mah, ‘de ntar sakit.”
Malamnya aku sekeluarga menonton tv, entah mengapa aku merasa pusing.
“Pah, nanti permainan di tambah lagi ya, silent hill ke PS-nya” ujarku meminta pada Papa.
“iya-iya nanti aja ya.” balas Papa lembut.
“Mah, ade ngantuk tapi ko pusing…”kataku pada Mama.
“Pusing? Minum obat ya. Tapi obatnya yang besar ‘de? Ngga apa-apa ya?” jawab Mamaku
Aku hanya mengangguk lemah, karena aku tak biasa lagi minum obat sebesar apapun, daripada aku harus disuntik kesakitan.
Sesudah meminum obat, aku pun tertidur lelap ..
Berat sekali kepalaku, saat aku bergegas ke lantai bawah ,aku disambut oleh Papaku.
“Ade awas jatuh, pelan-pelan”teriaknya keras
“ya Papa ..”ujarku
Aku langsung ke ruang tv untuk menonton kartun kesukaanku Spongebob.
“Sayang, hari ini Mama kerja, tapi Papa libur ko. Jadi kamu baik-baik ya di rumah sama Papa!” kata Mama dari kejauhan sambil membawakan nasi goreng dan susu.
Mama mulai menyuapiku ..
“Mah, Pah, ‘de. Kakak berangkat sekolah ya. assalamu’alaikum!”ujar ke-2 kakakku.
“Wa’alaikumsalam” jawabku Papa dan Mama.
Tak lama ..
“Pah, ‘de sayang. Mama pergi dulu ya. assalamu’alaikum!” Mama pergi sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku bosan di rumah. Akhirnya aku main sepada di luar, tentu saja sepengetahuan Papaku di rumah.
Tetapi sekali mengkayuh, 2 kali, 3 kali, aku merasa pusing. Tapi itu tak telalu pusing. Sampai akhirnya aku pulang ke rumah.
“udah pulang sayang?” kata Papaku membalikan badannya dari komputer yang sedang dioprasikan.
“uda pah, mau maen PS..”jawabku
“udah jangan keluar lagi, di rumah aja, kalau di luar lagi panas”katanya lagi sambil melihatku
Di rumah, aku main PlayStation dengan game kesukaanku Mortal Kombat .. 1jam berlalu, 2jam..
“uh.. bosen maen PS aja” gumamku
Aku keluar lagi untuk bersepeda, sambil menuggu waktu sekolah.
Hari itu sangat panas sekali. Tak lama aku merasakan pusing yang amat sangat menggangguku untuk bersepeda, hanya kali ini terasa sakit perut. Aku pun pulang.
“Papa..!!” desahku memanggil Papa
“kenapa sayang?” tangannya menjulur ke arah dahiku
“aduh, panasnya tinggi! Ade pusing?” lanjutnya cemas
“ya pusing pah, sama sakit perut!”kataku memegang perut.
“bentar ya, Papa telfon Mama dulu.” Katanya panik
Pasti Papa menghawatirkanku kejang. Jika panasku tinggi aku kadang seperti itu, tapi sudah lama sekali aku tak mengalami itu lagi.
Tak lama Mama pun datang dengan wajah panik
Aku merasa badanku panas, dan aku tak sadar , seperti tertidur lelap, tapi aku tak dapat membangunkan diriku sendiri.
“nda sayang, sadar sayang, sadar !” suara kecil itu seperti suara Mama
“astagfirullah, ade bangun sayang. Papa ngga kuat liatnya!” suara lainnya seperti suara Papaku
Aku merasa badanku dingin dan tak lama aku pun sadar.
Aku langsung dilarikan kerumah sakit terkenal di Kota Bandung.
Setelah aku dipriksa dan dironsen, aku divonis usus buntu dan harus di oprasi
“ini harus cepat di oprasi!”kata dokter bedah itu
“tapi dok, anak saya baru masuk rumah sakit ini, dan keadaannya masih panas tinggi”kata ayahku kebingungan.
“besok harus di oprasi, bapak ini bagaimana? anak ini harus cepat di oprasi jika ingin panasnya turun, bapak lebih sayang biaya atau sayang anak?”kata dokter itu yang mulai emosi
“tapi .. baiklah kalau itu jalan anak saya untuk sembuh.”
Bagaimana kakakku di rumah, pasti mereka khawatir.
Esoknya hari Rabu pukul 10 pagi. Aku puasa seharian dari kemarin karena akan oprasi, dokter sudah siap untuk oprasi. seluruh anggota keluargaku cemas, dan terus berdo’a..oprasi kecil itu menghabiskan waktu kurang dari 2jam.
Selesai oprasi aku tertidur cukup lama. Dan sesudahnya aku harus puasa lagi, sampai aku membuang angin.
Hari demi hari keadaanku memburuk, Mama hanya bisa membaca ayat Al-Qur’an di sampingku, dan sesekali membasuh wajahku dengan air do’a. aku senang, tapi aku sangat haus dan terasa cape, aku pun tak kuat dengan keadaan seperti ini, selang infus dimana-mana, sesekali suster mengambil darah dengan suntikan, itu adalah musuhku.
Hari jum’at aku kembali dipriksa darah.
“ibu.. anak ibu demam berdarah.” Wajah dokter spesialis anak itu tak karuan
“demam berdarah ?” Mama kaget mendengar hal itu.
Aku seperti berada disebelah Mamaku saat itu, padahal aku ada di ruangan tempat aku dirawat.
Trobositku turun menjadi 7000. keluargaku berharap aku bisa sembuh dan bermain dengan sepupuku yang seusia denganku.
“padahal demam berdarah itu harus minum air putih dan sayuran, ini malah di oprasi dan Randa disuruh puasa. Itu hal yang berbanding terbalik, kan?”kata tante perempuanku
“kalau memang ini jalan yang terbaik dari Allah. Kita hanya bisa berdo’a dan melakukan yang terbaik” jawab pamanku
Sabtu siang 14 Februari 2009
Aku dibawa ke ruang ICU, dan untuk kesekian kalinya dokter menyuruh Mama keluar dan menjauhiku, aku hanya bisa menangis.
Aku memanggil Mama yang jauh dibalik pintu sana
“Mah .. Mamah !!” desahku
Aku diikat di ruang ICU, karena aku adalah anak yang tidak mau diam, aku panik, aku gelisah, sampai akhirnya aku tersenyum, ternyata itu adalah senyuman terakhirku. Aku telah disamping yang kuasa dengan umurku yang masih 8 tahun ini ikhlas meninggalkan keluargaku. Karena aku percaya adanya kematian.
Ayahku langsung mengetuk pintu dengan keras sementara dokter membereskan selang.
“tenang pak, ini masih kritis!”kata dokter yang masih sempat berbohong
“APA!! INI PASTI SUDAH TIDAK ADA, KRITIS APA?” Papaku berteriak dan memelukku untuk terakhir kali. Papa menangis semua keluargaku menangis histeris, guru-guruku juga, anak kecil yang mereka sayang, yang mereka banggakan, yang mereka puji dengan keadaanku, ternyata Allah-lah yang lebih sayang padaku. Di hari kasih sayang ini adalah hari terperih yang dialami keluargaku.
Tapi sudahlah, tak ada yang harus ditangisi. Aku sekarang bahagia telah duduk manis di surga, aku tak mempunyai dosa, tetapi aku merasa sedih apabila keluargaku menangis memikirkanku, aku hanya ingin do’a dari orang yang ku sayang.
Urusan dokter yang benar atau tak benar mengobatiku atau disebut malpraktek. Keluargaku sudah ikhlas, karena mereka yakin, semua akan ditanggung di hadapan Allah.
