Today full of numeric, ngolah tren penjualan dan kWh
penjualan adalah topic hari ini, sulit menemukan si balance but felt YES, and
so satisfy if you are finished it! Yeah, me too..
rehat sebentar......
So excited when many people across A Yani streets, around
the main street in Palangka Raya, this parade made a traffic, it was so scarce
for sure in this city, wasn’t it? hehee.
Sebelum keluar kantor, dari jendela lantai dua sudah
terlihat penuh sekali orang di bahu jalan, menunggu berbagai tampilan adat
“Dayak” dari pemerintahan Kalteng setempat. Yaa curi-curi waktu sedikit disela
kesibukan untuk melihat parade yang ada satu tahun sekali ini, HUT Perayaan
Kalteng ke-59.
Oke beranjak dari tempat duduk yang bersebelahan dengan atasan,
lalu menawari untuk melihat parade “Pak, lihat Pawai………” sambil berjalan
teratur mendekati pintu keluar ruangan dengan sahutan “silahkan mba….” Atasan
yang terlalu mengerti hehehe,, keluar dari pintu langsung mengambil langkah
besar namun tetap pada posisi mengatur ke-feminiman layaknya seorang wanita
karir, KARIR JAR………. Disela perjalanan mendekati anak tangga, menoleh ke arah
kiri sedikit melihat cermin, dan langsung mengambil langkah dan keluar dengan
keadaan trotoar depan kantor penuh dengan masyarakat sekitar. Jalan ditutup
sementara.
Mata ini dimanjakan dengan para pemuda dan pemudi keturunan
pribumi, sungguh pandai bersolek, berdandannya mantap, ya ditambah lagi karena
bebiniannya ini bungas-bungas, suku Dayak yang terkenal dengan tragedi di Sampit
seakan pudar karena melihat paras bebiniannya bersih and so glowing, dengan
dibalut pakaian adat Dayak, tameng-tameng, ikat kepala, parang, aneka asesoris
seperti tanduk dan paruh yang menyerupai Burung khas Palangka Raya ini dengan
bulu-bulu tinggi diatas kepala sang lakian.
Nama Burung ini adalah Burung Tingang atau Enggang baru tahu, kemarin sih nyebut nama burung ini sebatas nyebutin nama Jalan Tingang, sekalinya Tingang ini ada Burung khas Palangka Raya.
Gerobak yang di design menjadi perahu, rumah, dan rumah adat
khas Dayak yang hamper mendominasi parade saat itu. Kampanye mengenai membaca,
berinovasi melalu perdagangan internasional, tidak ada satu kendaraanpun yang melintas
diantara ramainya pawai tersebut karena jalan ditutup, mau lewat sana ya harus izin ikut pawai dulu.. sampai akhirnya teman sekantor justru tidak masuk lagi sampai jam pulang karena macetnya Palangka Raya pada saat itu.. how poor u are dud..







