Saturday, February 10, 2018

10 Hal Unik di Kota Sukamara (PART 1)

First impression mengenal kota ini adalah lebih tenang dan lebih terpencil dibandingkan dengan kota dinasku sebelumnya, Palangkaraya..

Butuh beberapa hari untuk adaptasi dari tempat yang cukup ramai ke tempat yang tenang, sama seperti adaptasi dari Bandung ke Palangkaraya hehe. Setelah dijalani, ada hal menarik yang tidak aku temui ditempat lain, sampai akhirnya aku memutuskan untuk membuat konten seperti judul diatas. Rencananya aku akan membagi dalam beberapa part, biar lebih asik bacanya.

Ok yang pertama

1. Jembatan Setengah Jadi

Sempet suudzan dengan jembatan ini, tidak berekspektasi lebih setelah kawan-kawan kantor ngajakin kesini, dan sepulang kantor kita kesini. Ternyata, dari tidak berekspektasi lebih itu aku melihat takjub dengan sawah dan langit orange bersanding dengan damai dan indah, berlatar suara kicauan walet, dan aroma rumput diujung jembatan.








Foto terkahir ini diambil sama orang hits Sukamara, Fajar namanya, jembatannya hanya sampai tengah aja, ngga berujung, mungkin ini adalah salah satu daya tarik orang-orang pribumi melepas penat seharian bekerja. 

2. Sebutan "Kak" lebih banyak dipakai daripada "Mba" atau "Teh"

Satu, dua, dan orang ketiga setiap kali mampir ke mini market atau warung buah pasti dipanggil kak, berasa kakak umur 16 tahun sebenarnya. Sapaan yang lebih nyamanan didengar ini memang bikin yang disapanya berasa masih muda, pas keluar dari Bandung juga sama aja sih panggil "Kak" untuk orang-orang yang masih seumuran.
Kebiasaan nyapa Mas atau Mba ini bisa jadi karena lawan bicara aku di Palangkara didominasi orang jawa dan orang banjar,
Tapi sapaan "Teh" dan "Aa/Akang" masih aku pakai ketika lagi ditanah kelahiran.

Pengalaman waktu beli Nasi Padang dilayani oleh bapak-bapak yang sangat amat ramah, bapak itu pun bertanya "Kakak pakai lauk apa, Kak?", sempet diem sebentar sebelum jawab pertanyaan si bapak, karena bapak ini seperti menyapa anak sendiri.

Ada pengalaman lain, aku sedang berkumpul dengan ibu-ibu arisan, mereka berbicara Bahasa Sukamara yang cukup pahami, mereka satu sama lain menyapa lawan bicaranya dengan "Kak". 
Hal yang unik banget untuk aku, terlihat mereka saling menghargai.

Sementara dua hal unik dulu ya, 

Kalau ada hal unik yang kalian anggap beda dari yang lain, sharing ya,

Wednesday, October 11, 2017

MENYAPA RINDU



Banyak hal yang bisa ku ambil dan pelajari setiap waktu, langkah ini yang membawa untuk mengambil pelajaran berharga dalam hidup, mempelajari diri sendiri, mempelajari orang lain.

Nah kadang apapun suasana hati, baiknya diungkapkan dengan tulisan, atau diary, kalo cara aku sih gitu, karena dengan begitu kita meluapkan semua keadaan yang ada didalam hati, tanpa sadar kamu pernah menulis itu ketika kamu membuka setiap lembaran yang kamu tulis. hahah

ya... contohnya aku ini.

mungkin ini kutulis saat aku sedang merasa rindu dengan kasih sayang orang tua dari kecil hingga sekarang.

berikut..

- MENYAPA RINDU -

Ku lukis perenung dan peredam rasa dalam hati
Ku habiskan dalam bisu dan rengekan saat dini
Angan ini hanya ku simpan rapi dalam hati
Bermimpi akan teraih suatu hari nanti

Boneka yg terpikirkan larut dalam waktu
Tak tergapai langsung pada saat itu
Saatnya belajar raih ranking Satu
Agar mencapai apa yang kutuju

Namun, tak ku tuju …
Pilu, dan hanya kembali diam dalam bisu
Hampir ku raih ranking satu

Letih ku terbalaskan
Sebuah tas boneka diberikan
Kata bahagia tidak terwakilkan
Terima kasih ku ucapkan

perlu memanjat dan mendaki
mengayuh dan berlari
serta merintih dan mempercayai
untuk keingina yang terisolasi

setiap tetesan keringat mereka
setiap rasa lirih yang terucap
mereka sebut namaku dalam do’a
membimbingku tanpa lelap

mereka, ku sebut ayah dan ibu
mereka yang ada dalam angan ku
mereka menghampiri rengekan ku
mereka…. Kekuatanku

Terima kasih Allah telah mengirimkan mereka
Jaga selalu sampai akhir hayat menyapa

Kini ku sudah dapat menggapai angan-angan
Setiap angan dipilih oleh filter larangan

Jarak kita hampir 5 senti dalam peta
Rasa rindu datang tanpa sapa

I Love u , Ayah dan Ibu

Menyapa rindu

Thursday, September 28, 2017

SUKAMARA - PANTAI LAUT DI BUMI BORNEO KALTENG

Semacam balas dendam, mumpung ada disini, sebelum bisa mutasi ke Kampung Halaman…. Ops! Bosen ya harapannya gitu terus? ya sabar siiih kan setiap orang punya harapan dan impian yang diinginkan, caranya agar tercapai ya diucapkan berulang dan diaamiinkan oleh lawan bicara.
hehehee

Mumpung ada disini, dinas disini, bekerja terus nggada habisnya, ya explore Sukamara boleh dong.

Minggu, 5 Agustus bulan lalu, kita berangkat pukul 3 pagi, alasannya karena ingin mendahului matahari sampai pantai. Memang kekuatan dadakan itu selalu tepat terlaksana, sampai lupa isi bensin semalam, bensin sudah Empty! Deg degan, karena tidak ada Kios BBM yang buka jam segini (di Kota Sukamara ini hanya ada satu POM Bensin, Kios BBM mendominasi) baiklah….! Deg deg an asli tjuy! Ya itulah wanita, apapun dibuat panik, dan fungsi lelaki adalah menenangkan. Baiklah.. tenang..

Alhamdulillah bensin full setelah melaksanakan Sholat Subuh, bersyukur karena listrik ada dimana pun kalian berada, disitu pun terdapat kawanan kita yang memiliki kios BBM.

Pantai Cabang Barat

Indahnyaaaaaaaa..... langit masih samar-samar, ada sedikit cahaya dalam kegelapan subuh itu, dipinggir pantai pula. So yummy gurih gurih gimana gitu.

Jalanan yang masih setapak (dalam proses aspal) membuat perjalanan kita memiliki backsound, coba bayangkan backsound jalanan tanpa aspal dan hanya pasir bercampur tanah seperti apa.

Destinasi pertama Pantai Sungai Anugerah, pasir putih, pohon kelapa, nelayan, semua menyatu dengan hawa pagi hari, sepi tjoy, masih lenggang, hanya ada kucing berlalu lalang dengan lenggokannya.


Mendung, sedih am…. :(matahari dan kita pun tak tahu siapa yang bertemu lebih dulu dengan pantai, redup bahkan cahayanya tak mampu untuk menembus lapisan awan sendu.


Tapi sendu tak berlangsung lama, karena kita masih dapat berkejaran dengan angin, hawa pantai memang bikin nyaman, betah, setuju???

Next perjalanan menyusuri bagian selatan Pulau Kalimantan, yang dekat Mercusuar, apik banget geeeeng disana…





Kesana, masih ditutup, dan ada beberapa pekerja, orang pribumi yang sangat hangat menyambut kita. Batal untuk ke Mercusuar, next ke Pantai Sungai Raja.

Kembali takjub, melihat pinus-pinus, (pinus gitu ya itu,,) yang tumbuh di daerah pantai, ada ikan pula di danau kecil, tapi fokus ini terganggu oleh aroma kotoran sapi hahahaha, iya banyak sapi, besar-besar lagi, difoto ini ngga ada sapinya, huhuhu. Tapi mendekati pantai aroma itu hilang, karena angin pantainya. Ohya selain itu pengurus disini mendirikan bangku yang etnik dan ayunan khas dari kayu untuk memberi kesan masih menyatu dengan suasana alam. Anginnya dahsyat memang, gueeeede banget, adem. Sangat amat menikmati, bahkan ngga peduli deh ini kerudung udah bengkok macem tenda pengungsian. Hehehe 





Betah banget, paling lama deh disini kayanya, karena memang fresh bat pokoknya dah, sampe liat jam aja cuma sekali, waktu itu jam 7.15 pagi.
Betapa indahnya ya sebagian kecil dari bumi kita geng, sukak atulah!! Ngga tau ah ngga bisa ngomong lagi aku mah.

 
FIX harus balik lagi mercusuar.


Berhasil bertemu dengan kuncen mercusuarnya, hanya dengan Rp. 10.000,-/orang kita sudah bisa naik keatas. Ada anak tangga yang bikin ngos-ngosan, tapi ingin cepet-cepet sampai atas, daaaaann masya Allah…. So awesome, sempat gemetar ini tuur ya Allah ninggali ketinggian, hiih aing serem pisan, tapi ya terkalahkan dengan ke awesome an suasana diatas sini. 


 Dan ternyata ini kunjungan akhir ke bibir pantai Kalimantan. Banyak sebenernya yang belum diceritain.
Tapi ya cukup untuk mengisi blog yang sepi ini..

hehehe :D