Thursday, November 25, 2010

Aku KehilanganMu


Denting lingkaran waktu berdetik, tik, tik, tik. Bola mataku berucap ketika jarum sepanjang  1,5 senti mulai terhenti diangka 2 bulatan kecil berhimpit, delapan, aku ingat angka itu, angka yang membuatku tiba-tiba membisu, dihadapan jam berwarna pink yang mulai pudar itu, dirinya mulai menghantui pikiran yang mulai melayang entah kemana. Ku lepas kaca transparan yang terpasang dihadapan mataku. Di sudut mata, ku menyeka butiran bening yang mengalir. Entah mengapa ku ingin bertemunya lagi.

“yah, warna favoritku biru, bukan pink!”, protesku ketika ayah memberi suatu barang yang mencerminkan sisi kewanitaan itu.

Dengan setting gunung datar yang melebar ke samping serta helaian kabut tipis yang memudarkan gunung, terlihat amat jelas kuasa Tuhan yang memberiku kesempatan untuk pergi ke tempat ini bersama seorang yang aku cintai. Kini ku berada di balik pagar-pagar kayu yang tidak terlalu tinggi. Sesaat ku melihat sekeliling, akhirnya ku tertuju pada danau berasap yang luar biasa indahnya, aku takjub melihatnya.
Langkah kaki itu jelas terdengar mendekatiku. Itu ayahku, tak biasanya beliau mengajakku ke tempat seperti ini.

“kali pertama kamu kesini ya Win?”, aku tercengang mendengarnya.

“iya, eh ini tempat apaan yah?”, kataku kegirangan.

“masa kamu ngga tau Win, ini tuh gunung!haha ”, ayah tersenyum puas yang membuat ku agak kesal.

Ku menarik nafas sekuat mungkin untuk menjawab pertanyaan konyol itu, oksigen terasa masuk ke raga ini, segar, dengan sedikit bau belerang.

“iya gunung apa itu yah? Ngga lagi bercanda nih!”, jawabku agak geram.

“anak ayah sekarang udah bisa serius ya.. ini GUNUNG TANGKUBAN PARAHU, anakku”, katanya sambil meraih bahu kananku, dan kini bahu kiriku bertemu dengan bahu kanan ayahku.

“ohh kita lagi di Bandung iya yah?”, ucapaku mulai penasaran.

“iya sayang”, senyuman itu kembali menghiasi wajahnya, entah mengapa ku senang, tetapi hati sangat meringis.

“bagaimana dengan warna pinkmu Win? Masih benci sama warna itu?”, ayah membuka obrolan.

“benci? Aku suka banget yah warna itu, kenapa?”, dahiku berkerut

Ayah tersenyum lagi padaku, dan berjalan menjauhi pagar setinggi pinggulku itu, “ikut ayah nak!”

Aku mengikuti ayah, ayah mendekati kursi kayu yang terlihat sangat tua, tetapi kursi itu sepertinya takkan pernah roboh.

“kenapa dengan warna pink yah?”, kataku melanjutan pembicaraan.

“tidak apa-apa, ingat angka delapan ngga?”, pertanyaan ini membuat ku kalang kabut.

“delapan? Ada apa dengan angka delapan yah? Itu tanggal ulang tahun pernikahan ayah sama bunda kan?”, rayuku padanya. Saatku  ingin melanjutkan perkataanku, aku tertuju pada rambut putih tipis yang mendominasi warna hitam.

“selain itu anakku, 5tahun yang lalu. Saat kamu di SMA, ingat?”, mata ayah berbinar-binar, berharap ku bisa mengingat hal itu. SMA? Aku ingat Medi

Sekilas, kuberpirir keras akan hal itu, apa arti pertanyaan ayah? Delapan? Tanggal aku akan menikah dengan Medi nanti, pacarku dari SMA. Aku pilih angka delapan karena aku ingin seperti ayah dan bunda ku, mempunyai keluarga yang harmonis, itu yang ku dambakan. 2tahun perbedaan umurku dengannya.  Medi sudah dekat dengan bunda, ayah, bahkan keluarga besarku hampir mengetahuinya. Dia dikenal ramah oleh semua anggota keluargaku, tak heran bunda mempercayai Medi untuk menjagaku.

Tapi sekarang aku menunggu Medi yang berada jauh dariku. Sudah lama tak berkomunikasi dengannya, tapi aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Dia melanjutkan pendidikannya ke Amerika. Kita terpisah dengan jarak setengahnya dari bumi. Dia janji akan kembali ke Jakarta untuk menemui keluarga dan aku tentunya. Medi bisa menggantikan ayah untuk menjagaku. Aku berharap dia bisa menepati janjinya.
Setelah ku berfikir...

“3tahun yang lalu aku lulus SMA yah, uh apa ayah lupa?”, tiba-tiba aku memonyongkan bibirku.

“anakku, ayah bingung. Apa kamu pantas mengetahui ini?”, tanya ayah yang kini mulai serius.

Aku tak mengerti maksud ayahku ini. Mengetahui apa? “apa yang harus aku ketahui yah?”

“apa kamu ingat dengan angka delapan? Angka kostum basketmu, angka favoritmu, delapan angka yang tak berputus yah, angka yang tak ada ujungnya seperti angka-angka lain. Bulatan angka delapan. Aku ingin seperti angka delapan, aku ingin berpikir tanpa ujung, delapan bisa mengintropesi diriku. Dan apa kamu ingat, kamu sangat membenci pink?”

Perkataan ayah itu seperti yang pernah aku ucapkan tapi aku tak ingat. Kepalaku sakit, terasa benturan yang bertubi-tubi menghadang kepalaku, flashback yang terus berputar dikepalaku. Aku kini menyadari aku hilang ingatan. Saat dia libur dari kuliahnya, aku dan Medi ke tempat indah GUNUNG TANGKUBAN PARAHU, kita tertabrak truk di daerah sini, ya...gunung datar ini setelah pulang dari tempat luar biasa itu.

“Medi ...” kataku lemah. Aku merintih, sakit, terasa sayatan itu mulai menganga dihatiku.. hatiku hancur.

Setetes air dari langit turun, dua tetes, tiga tetes, gerimis ini menghayutkan pikiranku, kemeja biru pemberian Medi ini mulai ternodai oleh bintik-bintik hujan. Aku ingat, dulu aku menyukai biru, sama seperti Medi, bahkan aku membenci pink. Medi yang memberiku jam pink itu, Medi ingin aku menyukai warna pink. Dia pernah bilang, aku terlihat cantik bila memakai sesuatu berwarna pink, aku tolak pernyataan itu. Tapi sekarang aku menyukai warna pink, Med.

“maafkan ayah sayang, tapi kamu harus ingat dengan semuanya. Apa kamu akan terus mengharapkan Medi? Maafkan dia yang telah ingkar dengan janjinya”, ayah memeluk ku, memayungiku.

Aku sadar, aku masih ingin dilindungi oleh ayahku, aku ingin bersama selamanya dengan ayah dan bunda. Medi... hanya ada dalam mimpiku, dia tak dapat kembali. Ternyata 2tahun aku tak mengetahui keberadaan mu Med, saat kita pulang dari tempat indah ini. Aku melupakan semuanya karena truk yang menabrak kita. Aku hilang ingatan dan aku kehilanganmu.

“yah, aku sudah ingat semuanya”, aku sangat terisak dengan perkataanku itu.
fotoku terahir

Sunday, November 14, 2010

judul resensi : Kehidupan seorang PORPHYRIA

Judul                         : THE MOTEL (pastikan anda tidak bermalam disini)
ISBN                        : 9789791133562
Penulis                      : Ari Z. Nanto
Rilis                          : 2007 
Halaman                   : 122
Penerbit                    : Puspa Swara
Bahasa                     : Indonesia
Harga                       : Rp. 24.000,-  
Ukuran buku            : 115x195mm

Sinopsis


Shhh ! Kamu harus cepat-cepat pergi dari sini...! Ia tersadar dari tidur. Sambil memegangi kepalanya yang terasa berat, ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. "Jangan berisik. Nanti mereka dengar." "Mereka? Mereka siapa?" "Ada rahasia dalam rumah ini." "Maksdunya? Saya benar-benar gak ngerti." "Dengar. Sebaiknya kalian semua segera pergi dari sini. Di sini terlalu berbahaya." "Tapi kami gak mungkin pergi begitu saja tanpa ..." "Maaf. Tapi dua teman non itu sudah ..." Aghhh ... Seandainya kami tak terjebak disini ....




Kehidupan seorang PORPHYRIA
oleh : Vina Egiane


The Motel merupakan novel yang diterbitkan oleh aksara 13, puspa swara, novel ini yang membuat bulu kuduk saya berdiri, merasa jijik, terkaget-kaget, bahkan mengerutkan dahi selama saya membaca novel. Saya fikir hanya ada dalam cerita kartun atau pemikiran manusia saja, tapi ternyata ada seseorang yang mengidap penyakit lebih dari anemia. Pengidapnya bisa-bisa menyuruput darah manusia dengan cara apapun.

Dalam novel ini, si penulis menelusuri keberadaan PORPHYRIA, sejarah tentang para pengidapnya. Ari menokohkan Nyonya Eli sebagai peminum darah segar tokoh-tokohnya. Nenek dari gadis muda berparas cantik bernama Lisa yang memiliki sebuah motel terpencil yang didampingi oleh pembantu Pak Brata dan Bu Brata yang senantiasa menjaga Lisa, anak dari majikannya Pandu Wijaya dan ibunya yang sudah meninggal dunia. Pandu Wijaya seorang dokter yang banyak membutuhkan organ dalam manusia dalam praktek kerjanya, dia jarang berkunjung untuk menjenguk anak dan ibunya di motel tua itu karena sibuk. Memanfaatkan hal ini, Dokter Pandu memerintah Pak Brata membunuh orang-orang yang menginap di motelnya agar dapat mengambil organ tubuh para korban. Sementara darahnya, menjadi santapan setiap hari ibu dari pak dokter itu, Nyonya Eli, dalam hal ini, Bu Brata yang selalu mengantarkan santapan itu ke kamar nomor 13, yang ditempati Nyonya Eli.

Yang lebih menegangkan, pembaca terbawa oleh cerita sebelumnya, yaitu berawal dari sebuah produksi film Young Direction Entertainment akan menggarap sebuah film yang diminati pada jamannya, horor, misteri, dibawah pimpinan Yogi Dirga serta disutradarai oleh Zirwan Rusli seorang sutradara yang sukses dalam menjalankan produksinya itu mengangkat artis baru, Virgil Albinia, Mimi Zerlinda, Irma Robia, si kembar Trista dan Trixie Juno, Addo Farman serta Saladin. Mereka inilah yang terjebak dalam motel terkutuk itu, satu persatu dari mereka mulai menghilang dari motel. Salah satu dari mereka bahkan ada yang melihat temannya terbaring dengan tubuh bagian dada terbuka lebar seperti habis di sayat benda tajam dengan darah mengalir pada sebuah kamar.

Novel horor yang pertama saya baca ini berhasil membuat saya takjub dengan tuturan kata penulis, banyak pengetahuan yang saya ambil dari novel ini, seperti vampir, kehidupan  porphyria, tokoh-tokohnya dan masih banyak lagi.

Disayangkan, novel ini tidak begitu semua orang tau keberadaannya, kecuali para penikmat novel misteri, selain itu, sangat minim peminat novel yang berbau horor, padahal banyak sekali pelajaran yang dapat diambil.
Sebenarnya ada pengobatan bagi para pengidap porphyria, tetapi banyak yang beranggapan salah, yaitu dengan cara meminum darah. Seperti pada novel ini Nyonya Eli, yang bertubuh tinggi besar seperti monster, sifat porphyria yang dimilikinya ini menurun pada cucunya Lisa, dia memiliki gigi taring yang mulai memanjang.

Monday, November 8, 2010

BLOG AKU INI ...

hah ??? APA ?
AKU punya BLOG ?
berlandaskan apa kamu vin punya blog ?

aku blogger amatir yang ga tau musti gimana kalo punya akun blog, liat ... aku ngeposting aja belom pernah ada yang komen, kalo yang liat lumayan lah *itu tandanya kamu belom ngeexplor apa yang ada disekitar vin  hah ?iya gitu ?


aku ga pernah putus asa buat ngemajuin blog aku ini, kya blog terkenal para blogger-blogger yang udah aku liat sebelumnya ...


AYO vin CHEER UP #nyengir tetep follow twitter aku iya :) @vinavenon

Thursday, November 4, 2010

WAJAH YANG PeWe saat baca sms

Hmmm..



pernah liat muka kamu waktu baca sms atau bales sms ??
*hal kecil gitu ngapain diliat vin,
halooo itu bukan hal kecil, itu hal besar, nandaain ekspresi km sama isi sms itu ..
kalo kamu tau muka kamu kaya gimana pas lagi baca sms, pasti ngakak banget deh liat muka sendiri hha (meuren).. hhe 
nih salah satunya gue kalo lagi baca sms, ga banget lah nih muka , ekspresinya aneh-aneh yang bikin gue jadi ngeri sendiri senyum, nangis di depan hp . itu aneh banget kalo ditilik tilik kaya orang gila .hhaha .. 
bener ga ?? pernah ada yang peka sama dirinya sendiri soal ekspresi wajah ????

ok cekidot



[PHOTO DIHAPUS]
 
 wah wah wah . muke gue ga bgt kan :P


BAGAIMANA DENGAN WAJAH ANDA?? '