Wednesday, July 14, 2010

Aku Masih Kecil tapi Aku Harus Belajar Dewasa

Gemeritik hujan di sore hari yang begitu riuh ramainya suasana, karena jatuhnya tiap tetes air hujan yang dingin ke permukaan bumi yang telah di sinari oleh teriknya matahari di siang bolong tadi. Begitu sangat dingin.
“hujannya deras sayang, kita diem aja dulu disini ya?” ujar Mama yang melihat ke langit.
“iya mah, tunggu aja dulu mah.” balasku
Dari kejauhan guruku dan seorang wanita muda berjalan ke arah ku dan Mama. Wanita itu seperti anak Ibu Dewi.
“Randa, belum pulang? Nunggu ujan ya?”guruku bertanya. Aku hanya tersipu malu.
“ya bu, hujannya besar sekali.” Mama langsung menjawab pertanyaan Ibu Guru yang seharusnya aku jawab.
“ibu, lucu ya Randa, tinggi besar lucu lagi, itemnya lucu ya ,ngga kayak anak kelas 2 SD gede banget? iih.. gemes pingin cubit, boleh?” kata wanita itu menunjukan rasa geregetnya padaku. Aku hanya bersembunyi di belakangan Mama.
“ahh.. Randa memang selalu malu begini, masih kecil. Randa sayang tuh anaknya Ibu Dewi namanya Kak Lia.” kata Mamaku yang membuat aku semakin malu.
“Randa-Randa, ya sudah. Hujannya sudah mulai berhenti, kita pulang yuk!” ajak Bu Dewi.
“Besok sekolah seperti biasa ya, jam 3 sore, sekolah yang dulu belum selesai direhab, sepertinya sekitar 2 minggu lagi selesai.” lanjut Bu Dewi.
Memang 1 minggu terakhir ini sekolahku direhab. Tak salah aku sering sekali kecapean dan jatuh sakit.
Sore itu sudah pukul 5.30, aku bergegas pulang bersama Mama.
Sesampainya di rumah aku melihat perempuan memakai pakaian tidur membukakan pagar rumahku, itu ternyata Kak Chika. Kak Chika menyodorkanku handuk merah bergambarkan kartun kesukaannya Micky Mouse.
“Ayo masuk-masuk, di luar dingin sekali. Ayo masuk Mah, ‘de ntar sakit.”
Aku senang memiliki keluarga seperti ini, belum lagi kakak sulungku
“ade besok kakak bawain coklat ya, ntar tagih lagi ke kakak, kakak suka lupa. Hahaha” kata Kak Manda sambil tertawa lebar.
“iya kak” jawabku

Esoknya ..
“Kak Manda mau pergi sekolah ya? jangan lupa kasih ade coklat ya!”kataku manja.
“iyaya, hampir aja kakak lupa. Tapi ade belajar yang bener ya!!”ujar Kak Manda sambil memukul keningnya sendiri
Kak Chika pergi sekolah, Mama pergi bekerja, sementara Papa libur di rumah denganku.
Sorenya aku kembali sekolah dan untuk kali ini aku di antar Papa. Papaku tak tahu tempat aku sekolah semetara, Papa hanya tau sekolah yang sedang di rehab. aku tak menyadari hal itu. Karena aku melihat banyak temanku dan guru-guru di sekolah yang sedang di rehab itu, padahal kalau di lihat sekilas sekolah itu tak layak untuk di rehab, maksudnya masih bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
TING NONG … TING NONG …
Bel berbunyi tandanya masuk kelas.
“ade masuk ya, jangan ngobrol aja, perhatiin pelajarannya. Oya jangan berantem?” kata Papaku dengan nada menasihati
“iya Papa..” jawabku sambil melambaikan tangan
Papaku menunggu di luar, karena hanya 2 jam aku belajar.
Saat itu aku tak merasa ada yang aneh .. tiba-tiba ..
“anak-anak ibu keluar dulu sebentar, kalian mengerjakan dulu ya!” kata Bu Dewi sambil meninggalkan kelas
tak lama Bu Dewi mengintip kedalam kelas sambil tersenyum, dia melihat suasana di kelas, hanya aku seorang yang melihat prilaku Bu Dewi saat itu, Bu Dewi tak biasanya seperti ini. Lepas pandangannya dari kelas, hanya dalam hitungan detik, seluruh atap sekolah roboh .temanku ada yang berhasil keluar, sementara aku duduk paling belakang dan sangat jauh untuk menjangkau pintu kelas, akhirnya aku tak sadarkan diri.
Semua keluargaku berdatangan ke rumah sakit untuk mengetahui keadaanku.
Aku masih terbujur kaku.
“sayang bangun sayang!” suara lembut itu seperti suara Mamaku
“adeeeeee bangun.” Suara itu, suara Kak Chika yang teriak-teriak
“adeee Randa Juniar Rahmah BANGUN!” Kakak sulungku berteriak dengan kerasnya
Aku pun bangun, dan ternyata semua itu hanya mimpi ..
“ade mimpi ya?” kata Kak Manda melihatku aneh
Akhirnya aku bercerita .. aku tak tau apa yang terjadi jika itu benar-benar terjadi. Mungkin semua keluargaku akan menangis, dan selalu memikirkanku.
“mimpi itu keinginan yang terpendam!” ujar Kak Chika
“jadi maksudnya bakal terjadi?” kataku berkaget-kaget
“bukan-bukan, mimpi mah cuma khayalan aja kok sayang” Mamaku seperti menyalahkan Kak Chika
“sudah-sudah, sekarang ade mandi ya! kan mau sekolah!” lanjut Mama lagi.
“ya deh, tapi ade di anterinnya sama Mama aja ya!” kataku memanja.
“iyaya. Sama Mama. Sekarang mandi yuk” ajak Mamaku
Aku yakin mimpi itu bukan segalanya, melainkan hanya bayangan dan gambaran saja. Mungkin seharusnya aku berdo’a dan minta perlindungan pada Allah kapanpun dan dimanapun.

No comments:

Post a Comment