Denting lingkaran waktu berdetik, tik, tik, tik. Bola mataku berucap ketika jarum sepanjang 1,5 senti mulai terhenti diangka 2 bulatan kecil berhimpit, delapan, aku ingat angka itu, angka yang membuatku tiba-tiba membisu, dihadapan jam berwarna pink yang mulai pudar itu, dirinya mulai menghantui pikiran yang mulai melayang entah kemana. Ku lepas kaca transparan yang terpasang dihadapan mataku. Di sudut mata, ku menyeka butiran bening yang mengalir. Entah mengapa ku ingin bertemunya lagi.
“yah, warna favoritku biru, bukan pink!”, protesku ketika ayah memberi suatu barang yang mencerminkan sisi kewanitaan itu.
Dengan setting gunung datar yang melebar ke samping serta helaian kabut tipis yang memudarkan gunung, terlihat amat jelas kuasa Tuhan yang memberiku kesempatan untuk pergi ke tempat ini bersama seorang yang aku cintai. Kini ku berada di balik pagar-pagar kayu yang tidak terlalu tinggi. Sesaat ku melihat sekeliling, akhirnya ku tertuju pada danau berasap yang luar biasa indahnya, aku takjub melihatnya.
Langkah kaki itu jelas terdengar mendekatiku. Itu ayahku, tak biasanya beliau mengajakku ke tempat seperti ini.
“kali pertama kamu kesini ya Win?”, aku tercengang mendengarnya.
“iya, eh ini tempat apaan yah?”, kataku kegirangan.
“masa kamu ngga tau Win, ini tuh gunung!haha ”, ayah tersenyum puas yang membuat ku agak kesal.
Ku menarik nafas sekuat mungkin untuk menjawab pertanyaan konyol itu, oksigen terasa masuk ke raga ini, segar, dengan sedikit bau belerang.
“iya gunung apa itu yah? Ngga lagi bercanda nih!”, jawabku agak geram.
“anak ayah sekarang udah bisa serius ya.. ini GUNUNG TANGKUBAN PARAHU, anakku”, katanya sambil meraih bahu kananku, dan kini bahu kiriku bertemu dengan bahu kanan ayahku.
“ohh kita lagi di Bandung iya yah?”, ucapaku mulai penasaran.
“iya sayang”, senyuman itu kembali menghiasi wajahnya, entah mengapa ku senang, tetapi hati sangat meringis.
“bagaimana dengan warna pinkmu Win? Masih benci sama warna itu?”, ayah membuka obrolan.
“benci? Aku suka banget yah warna itu, kenapa?”, dahiku berkerut
Ayah tersenyum lagi padaku, dan berjalan menjauhi pagar setinggi pinggulku itu, “ikut ayah nak!”
Aku mengikuti ayah, ayah mendekati kursi kayu yang terlihat sangat tua, tetapi kursi itu sepertinya takkan pernah roboh.
“kenapa dengan warna pink yah?”, kataku melanjutan pembicaraan.
“tidak apa-apa, ingat angka delapan ngga?”, pertanyaan ini membuat ku kalang kabut.
“delapan? Ada apa dengan angka delapan yah? Itu tanggal ulang tahun pernikahan ayah sama bunda kan?”, rayuku padanya. Saatku ingin melanjutkan perkataanku, aku tertuju pada rambut putih tipis yang mendominasi warna hitam.
“selain itu anakku, 5tahun yang lalu. Saat kamu di SMA, ingat?”, mata ayah berbinar-binar, berharap ku bisa mengingat hal itu. SMA? Aku ingat Medi
Sekilas, kuberpirir keras akan hal itu, apa arti pertanyaan ayah? Delapan? Tanggal aku akan menikah dengan Medi nanti, pacarku dari SMA. Aku pilih angka delapan karena aku ingin seperti ayah dan bunda ku, mempunyai keluarga yang harmonis, itu yang ku dambakan. 2tahun perbedaan umurku dengannya. Medi sudah dekat dengan bunda, ayah, bahkan keluarga besarku hampir mengetahuinya. Dia dikenal ramah oleh semua anggota keluargaku, tak heran bunda mempercayai Medi untuk menjagaku.
Tapi sekarang aku menunggu Medi yang berada jauh dariku. Sudah lama tak berkomunikasi dengannya, tapi aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Dia melanjutkan pendidikannya ke Amerika. Kita terpisah dengan jarak setengahnya dari bumi. Dia janji akan kembali ke Jakarta untuk menemui keluarga dan aku tentunya. Medi bisa menggantikan ayah untuk menjagaku. Aku berharap dia bisa menepati janjinya.
Setelah ku berfikir...
“3tahun yang lalu aku lulus SMA yah, uh apa ayah lupa?”, tiba-tiba aku memonyongkan bibirku.
“anakku, ayah bingung. Apa kamu pantas mengetahui ini?”, tanya ayah yang kini mulai serius.
Aku tak mengerti maksud ayahku ini. Mengetahui apa? “apa yang harus aku ketahui yah?”
“apa kamu ingat dengan angka delapan? Angka kostum basketmu, angka favoritmu, delapan angka yang tak berputus yah, angka yang tak ada ujungnya seperti angka-angka lain. Bulatan angka delapan. Aku ingin seperti angka delapan, aku ingin berpikir tanpa ujung, delapan bisa mengintropesi diriku. Dan apa kamu ingat, kamu sangat membenci pink?”
Perkataan ayah itu seperti yang pernah aku ucapkan tapi aku tak ingat. Kepalaku sakit, terasa benturan yang bertubi-tubi menghadang kepalaku, flashback yang terus berputar dikepalaku. Aku kini menyadari aku hilang ingatan. Saat dia libur dari kuliahnya, aku dan Medi ke tempat indah GUNUNG TANGKUBAN PARAHU, kita tertabrak truk di daerah sini, ya...gunung datar ini setelah pulang dari tempat luar biasa itu.
“Medi ...” kataku lemah. Aku merintih, sakit, terasa sayatan itu mulai menganga dihatiku.. hatiku hancur.
Setetes air dari langit turun, dua tetes, tiga tetes, gerimis ini menghayutkan pikiranku, kemeja biru pemberian Medi ini mulai ternodai oleh bintik-bintik hujan. Aku ingat, dulu aku menyukai biru, sama seperti Medi, bahkan aku membenci pink. Medi yang memberiku jam pink itu, Medi ingin aku menyukai warna pink. Dia pernah bilang, aku terlihat cantik bila memakai sesuatu berwarna pink, aku tolak pernyataan itu. Tapi sekarang aku menyukai warna pink, Med.
“maafkan ayah sayang, tapi kamu harus ingat dengan semuanya. Apa kamu akan terus mengharapkan Medi? Maafkan dia yang telah ingkar dengan janjinya”, ayah memeluk ku, memayungiku.
Aku sadar, aku masih ingin dilindungi oleh ayahku, aku ingin bersama selamanya dengan ayah dan bunda. Medi... hanya ada dalam mimpiku, dia tak dapat kembali. Ternyata 2tahun aku tak mengetahui keberadaan mu Med, saat kita pulang dari tempat indah ini. Aku melupakan semuanya karena truk yang menabrak kita. Aku hilang ingatan dan aku kehilanganmu.
“yah, aku sudah ingat semuanya”, aku sangat terisak dengan perkataanku itu.
fotoku terahir

terisak tu apaan?
ReplyDelete